Sejarah Sayyid Husein Assegaf (Makam Zimat Banyusangka) di Bangkalan

Sayyid Husein Assegaf merupakan putra dari Raden Maulana Makhdum Ibrahim dan istrinya yang bernama Syarifah Fatimatus Azzuhro Assegaf.

Sayyid Husein Assegaf merupakan Makam Zimat Banyusangka yang terdapat di Kabupaten Bangkalan Pulau Madura bagian pesisir utara Tanjung Bumi.

Ada cerita yang bersejarah hingga sekarang ini di keramatkan, nama asli beliau bernama Sayyid Husein Assegaf yang berasal dari Desa Jaddih Bangkalan yang tak jauh dari pusat Kota.

Silsilah Bujuk Madura di Banyusangkah

Sejarah Makam Sayyid Husein Assega

Sayyid Husein Assegaf merupakan putra dari Raden Maulana Makhdum Ibrahim dan istrinya yang bernama Syarifah Fatimatus Azzuhro Assegaf. beliau mempunyai banyak pengikut karena ketinggian ilmu, akhlaq nya yang berbudi luhur dan tingkahnya yang sungguh mulia. 

Tempat tersebut salah satu Bujuk Madura yang masih ramai di datangi oleh para peziarah luar madura untuk mengharap barokah sehinhga ada Buyut Banyosangka.

Kisah Cerita Wafatnya Sayyid Husein Assegaf

Dari cerita yang saya tangkap dari sumber juru kunci makam zimat pada akhir tahun 2017 yang dikenal dengan istilah jurkonceh dalam Bahasa Madura yakni Nyai Kutsiyah.

Foto Dengan Juru Kunci

Pada zaman dahulu, semasa hidupnya Sayyid Husein Assegaf tak pernah lepas dari orang yang membenci akan kebaikannya.

Sehingga pada suatu hari ada satu dari seseorang yang iri atau membecinya  terhadapnya dan kemudian  melaporkan kepada sang Raja Bangkalan bahwa ingin menghacurkan kekuasaan dan menggulingkan dari kedudukannya dengan memfitnah Sayyid Husein Assegaf.

Mendengar berita atau informasi tersebut, lalu sang Raja Bangkalan tidak berpikir panjang tanpa memiliki bukti nyata, yang kemudian mengutus seluruh pengikut, pasukan dan para prajuritnya untuk melakukan aksi membunuh Sayyid Husein di kediamannya tepatnya di Desa Jaddih Bangkalan.

Foto Pintu Utama Makam Zimat

Akhirnya Sayyid Husein wafat di tangan Raja Bangkalan ...

Syarifah Fatimatus Azzuhro Assegaf seorang ibu dari Sayyid Husein meminta tolong ke para warga sekitar dan para pengikutnya atas kejadian tersebut untuk melakukan proses pengkuburan dengan nada yang sedih dalam menjalaninya.

Pada proses penggalian, tanah kuburan terjadi suatu musibah yang tiba-tiba mengejutkan yaitu  mengeluarkan tanah pada galian  pertama,  keluar darah pada galian kedua dan keluar batu pada galian ketiga hingga seterusnya keluar berbagai macam campuran yang mengherankan.

Mendengar informasi tersebut, Ibu dari Sayyid Husein sangat sedih dan merasa ketakutan.  kemudian berkata dan bertanya "Anapah mak dhek nekah?" (Mengapa menjadi seperti ini ?)

Setelah itu, kemudian pindah ke lokasi untuk melakukan proses galian kuburan kembali namun tetap terjadi musibah yang sama.

Akhirnya dari salah satu pengikut yang setia dengan Sayyid Husein menjawab apa yang ditanya oleh ibunya.

Dahulu sebelum wafat, pada saat melakukan penyebaran islam di Bangkalan. Beliau pernah memberi pesan dan amanah yaitu:

"manabi abdinah ntar adhek omor, mentah tolong dimakamkan ee daerah pesisir utara bangkalan ee disah banyusangka" (kalau suatu saat saya meninggal, minta tolong untuk di makamkan ke desa pesisir utara bangkalan tepatnya di desa banyusangka") - pesan Sayyid Hosen.

Setelah itu, Ibu Sayyid Husein menyuruh kepada para rombongan jenzah untuk berpindah dan berangkat untuk mencari dan menuju ke desa banyusangka supaya proses pemakaman lebih cepat selesai dan aman.

Foto Sebelum Masuk Makam

Sebelum para rombongan berangkat, Ibu Sayyid Husein mempersiapkan 3 ekor sapi agar dibawa para rombongan untuk menuju desa tersebut.

Karena pada zaman dahulu belum ada jam, kendaraan dan belum terlihat dengan jelas perihal titik lokasi atau nama desa sehingga sedikit kebingungan pada saat mencarinya. 

Namun,  pada saat proses penggalian di setiap desa tetap terjadi hal yang sama pada proses penggalian pertama di Desa Jaddih yang keluar darah, tanah dan beberapa campuran lainnya.

Seiring berjalan waktu, sekitar beberapa desa yang telah dilewati dan sekitar pada sore hari ada salah satu para rombongan jenazah menanyakan "Anekah disah napah?" (Ini desa apa?) - ujarnya. 

Kemudian dari salah satu warga setempat mengatakan bahwasannya ini adalah Desa Banyusangka...

Setelah mendengar nama tersebut, Ibu Sayyid Husein dan para rombongan jenazah merasa senang dan gembira sekali karena desa yang sedang di cari selama beberapa hari akhirnya telah ditemukan.

Kemudian 3 ekor yang tadi di masak dan sebagian dari para rombongan jenazah melakukan penggalian tanah.

Sebelum penggalian dimulai, rumput atau sampah yang ada ai sekitar di bersihkan untuk dibuat proses pemakaman.

Akan tetapi, ketika sedang membersihkannya ada salah satu orang menemukan penggalian tanah tanpa ada yang mengetahui siapa yang menggalinya.

Setelah proses penggalian selesai, lalu dilanjutkan dengan pembacaan talqin dan kemudian Ibu Sayyid Husein meminta kepada para rombongan untuk dibacakan talqin sebanyak 3 kali dari jarak 500meter dengan nada menagis sambil berucap :

"mandher selamet dialam kaessah, seporanah dusanah dan diangkat deddih ummat kanjeng Nabi Muhammad S.A.W" - (semoga selamat dialam sana, dimaafkan segala dosanya dan diangkat menjadi ummat Nabi Muhammad S.A.W) dan berucap "Zimat Onggu Kakeh Sen" (Zimat Benaran Kamu Husein).

Tak lama kemudian, karena dulu waktu dan hari belum ditemukan atau tidak diketahui, setelah pemakaman telah selesai, terdengar suara ayam berkokok yang bertanda bahwa telah memasuki waktu shoat subuh. 

Sekitar beberapa hari kemudian, Makam Sayyid Hosen Assegaf didatangi oleh ulama besar madura yaitu Syaichona Kholil (Mbah Kholil) dengan menancapkan 4 kayu disetiap sisi sudutnya dan atap yang terbuat di kayu.

Hingga sampai saat ini, kayu yang pernah ditancapkan mbah khoil masih abadi dan warga setempat tidak pernah berani untuk mengubah posisinya meskipun pesarean tersebut di renovasi. karena dulu pernah diangkat oleh warga hampir 40 orang belum bisa bergerak.

Makam Sayyid Hosen & Nyi Siti Romlah

Selain itu, disamping makam sayyid husein assegaf, terdapat makam perempuan yang bernama nyai siti romlah yang masih belum diketahui dengan siapa beliau yang bisa dimakamkan dekat makam zimat banyusangka hingga sekarang ini.

Kesimpulan dari cerita tersebut:

Nama makam zimat karena tangisan ibunya yang menyebut Sayyid Husein dengan ucapan Makam Zimat sambil menangis dan berdoa dari kejauhan ketika hendak dimasukkan kedalam kuburan. karena perisitiwa yang menimpa selama hidupnya meningalkan jejak yang legendaris dan keramat.

Ada sumber lain yang mengatakan, bahwa sang Raja Bangkalan yang memberi perintah membunuh Sayyid Husein setelah berselang hari kemudian mendengar bahwa informasi yang didapat sebelumnya ternyata tidak benar.

Dari penyesalan tersebut,

Kemudian sang Raja Bangakalan tidak tau lagi harus bagaiaman untuk menembus dosanya. sehingga Sayyid Husein di beri gelar dengan sebutan Buyut Banyosangka (Bujuk Banyusangka).

Makam Zimat Dari Sisi Barat

Lokasi Makam Zimat Banyusangka

Untuk menuju ke bujuk madura makam zimat bangkalan, dari pusat kota jarak yang kalian tempuh sekitar kurang lebih 45 menit hingga 60 menit dari pusat kota. 

Tepatnya di daerah pesisir Dusun Barat Sungai Desa Banyusangka, Kecamatan Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan.

Sejarah buju' azimat sayyid husein assegaf banyosangkah di atas. merupakan wisata religi yang bersejarah dalam menyebarkan agama islam tepatnya di daerah pantai utara bangkalan madura.

Jadi, ketika kalian berkunjung untuk ziarah ke pesarean makam zimat sayyid husein assegaf di kecamatan tanjungbumi desa banyusangka merupakan aktivitas wisata religi yang sangat recomended untuk dikunjungi.

Itulah sejarah makam zimat sayyid husein assegaf madura yang merupkan wisata religi bangkalan yang tak pernah sepi dikunjungi.

Baca Juga: Jejak Madura di Kompleks Makam Ratu Ibu Sampang

Penutup

Itulah sejarah sayyid husein assegaf (makam zimat banyusangka) di Bangkalan yang bersejarah dan tetap di keramatkan hingga sekarang ini.

Sekian dan terima kasih atas kunjungan ke website ibnujacky - semoga postingan mengenai sejarah makam sayyid husein assegaf bermanfaat bagi para pembaca dan semoga mendaptakan karomah dari sesepuh di madura.